Modal ventura untuk start up bisa lebih membanjir

Pasar modal ventura untuk perusahaan rintisan (start up) dalam negeri berpeluang naik tahun ini. Salah satu pendorongnya adalah suntikan modal jumbo ke salah satu unicorn lokal, Go-Jek pada awal tahun ini, yang diperkirakan mencapai sekitar US$ 1,2 miliar atau setara dengan Rp 16,56 triliun.

Aksi tersebut berpeluang mendorong jayapoker lain untuk menyuntikkan dana segar ke perusahaan start up dalam negeri. Namun memang, bila melihat dari sisi jumlah pendanaan di kuartal I-2018, nilai masih lebih kecil ketimbang periode sebelumnya tahun lalu (baca harian KONTAN halaman 17, edisi Selasa 24 April 2018).

Menurut Donald Wihardja, Wakil Ketua Asosiasi Modal Ventura untuk Start Up Indonesia (Amvesindo), sejauh ini pihaknya masih belum mempunyai data soal jumlah start up yang menerima pendanaan serta jumlah pendanaan yang terjadi selama periode itu.

Namun pihaknya tengah menyiapkan calon unicorn lokal anyar lagi. Ia harapkan target tersebut baru bisa tercapai tahun depan. Setidaknya ada 20 calon unicorn lokal di program The Next Indonesian Unicorn (Nexticorn) yang digagas Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo). “Kebanyakan dari fintech, dan ada satu hingga dua yang bisa menjadi unicorn berikutnya,” katanya kepada KONTAN, akhir pekan lalu (20/4).

Keyakinan tersebut setelah ia melihat performa dari bisnis ke 20 calon unicorn tersebut. Baik itu dari sisi pengembangan dan kinerja bisnis. Sayang, ia belum mau merinci identitas dari calon unicorn tersebut. Yang pasti, ke 20 start up tersebut yang terbaik dari masing-masing bidang.

Maklum, untuk bisa mendanai start up ke level unicorn butuh dana gede. Minimal, kata Donald, US$ 200 juta ke atas. Begitu pula untuk pendanaan dibawahnya yakni series B, yang butuh dana minimal US$ 5 juta sampai dengan US$ 20 juta yang juga tidak terlalu banyak. Sebab biasanya bila ada start up yang dapat dana itu, pasti berasal dari kumpulan para investor.

Makanya, menurut Business Development Golden Gate Ventures Dea Surjadi, pihaknya sampai harus menggandeng sejumlah pihak untuk bisa memberikan pendanaan serie B pada tahun ini. Persoalannya, start up lokal lebih mumpuni jika disuntik modal di tahap pendanaan (seed funding) hingga Serie B.

Ambil contoh Warung Pintar yang mendapat dana Rp 55 miliar dari sejumlah investor. Menurut Agung Bazharie, Chief Executive Officer Warung Pintar, kucuran dana itu bakal ia pakai untuk membangun ratusan cabang sepanjang tahun ini. Saat ini, jumlah cabang Warung Pintar baru 38 cabang.